Senin, 09 Januari 2017

Tokoh

ABU AL-WAFA’ AL-BOUZAJANI
Mengembangkan Trigonometri


Abu al-Wafa’ al-Bouzajani lahir pada tahun 940 di Bouzajan. Albuzdschani adalah nama lain Abu al- Wafa’. Ia dikenal sebagai seorang ahli matematika dan astronomi. Mula-mula, ia belajar matematika pada dua pamannya, Abu Amr al-Mughazili dan Abu Abdullah Muhammad bin Anbasa. Setelah masa pendidikannya selesai, Abu al-Wafa’ memutuskan pindah ke Baghdad untuk meneliti gerak bintang.
Semasa hidupnya, Abu al-Wafa’ telah menulis berbagai buku, risalah, dan tulisan ringan mengenai berbagai disiplin ilmu yang dikuasainya. Ia mengomentari beberapa karya al-Khwarizmi dengan detail, lugas, dan terbuka. Abu al-Wafa’ juga memberikan sejumlah sumbangan berharga bagi ilmu aljabar. Ia bekerja keras menghubungkan ilmu aljabar dan ilmu teknik, misalnya melalui analisis persamaan. Ia juga memberikan solusi bagi sejumlah maslah teknik, seperti masalah persamaan pangkat empat. Tak bisa dipungkiri, karya al-Wafa tersebut merupakan dasar penting bagi perkembangan ilmu teknik. Dalam ilmu matematika, Abu al-Wafa’ memberikan sejumlah sumbangan penting berupa sistem perhitungan diferensial (hiabul tafadhul) dan integral (hisabul takamul).
Ilmu teknik analitis adalah ilmu teknik yang mengurai persamaan aljabar dengan format arsitektur, khususnya persamaan sejumlah bantuk sederhana, seperti lingkaran, elips, dan parabola. Sistem perhitungan diferensial dan integral adalah sistem perhitungan yang paling mudah dipelajari dan dimengerti. Dengan dua model perhitungan ini, seseorang dapat melakukan berbagai pengkajian ilmiah, khususnya pembuatan persamaan gerak dan kaidah-kaidah fisika, seperti dinamika dan suhu panas.
Para ilmuan barat mengakui bahwa Abu al-Wafa’ telah melakukan penelitian terhadap rumus segitiga. Ia juga memasukkan rumus bayangan dan rumus segitiga untuk meecahkan sejumlah masalah matematika. Tentu saja, penemuan tersebut sangat penting dalam bidang matematika. Sejumlah perhitungan yang dimasukkan Abu al-Wafa’ adalah perhitungan setengah lingkaran, lingkaran sempurna, dan Tabel Logaritma, untuk mengukur nilai sinus-kosinus hingga angka 80. Abu al-Wafa’ juga menemukan rumus untuk menghitung sudut segitiga dan segiempat dengan memakai rumus segitiga bayangan. Di kemudian hari, rumus segitiga terbukti sangat berperan dalam perkembangan ilmu astronomi modern.
Selain menciptakan rumus baru, Abu al-Wafa’ juga menghasilkan karya, seperti Fil Hisab (Ilmu Hitung). Buku ini berisi sejumlah bahasan yang mudah dimengerti oleh semua kalangan, termasuk kalangan buruh. Selain itu, buku ini juga berisi beberapa pasal tentang pengukuran, aktivitas pajak dan transaksi pedagang, Yahtaju ilaihil Shunna’ minal ‘Amalil Handasiyah (Industri yng Memerlukan Aktivitas-aktivitas Teknis), dan Syuruh Muallafat Deopantes wal Khwarizmi (Beberapa Komentar atas Karya Deopantes dan al-Khwarizmi). Buku ini sangat membantu siapapun yang ingin memahami aljabar. Karya Abu al-Wafa’ yang juga cukup tekenal adalah sebuah buku aritmatika berjudul fi Ma Yahtaj Ilayh al-Kuttab wa al-Ummal min Ilm al-Hisab, al-Handasah, dan al-Kamil. Buku tersebut ditulis dalam bahasa Arab dam Persia. Adapun al-Handasah adalah sejenis buku yang sama dengan  Book of the Geometrical Construction.
Abu al-Wafa’  adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan ilmu trigonometri. Ia berjasa memperkenalkan sejumlah unsur trigonometri,  seperti tangen, kotangen, secan, dan cosecan. Dalam sebuah buku geometrinya, Abu al-Wafa’ membahas beberapa konstruksi geometris dalam terjemahan bahasa Persia, yang beberapa bagian didasarkannya pada sejumlah model India. Di kemudian hari, buku ini sangat menarik perhatian para ahli matematika dunia.
Abu al-Wafa’ meninggal dunia pada tahun 998 di Baghdad.

Sumber :

Murtiningsih, Wahyu. 2017. Biografi Para Ilmuwan Muslim. Yogyakarta : Pustaka Insani Madani

Senin, 15 Agustus 2016

NASIONALISME

Nasionalisme dapat diartikan sebagai rasa cinta terhadap bangsa dan negaranya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin pernah mengalami peristiwa-peristiwa berikut:
1) Bersuka cita ketika para atlet Indonesia berhasil mempersembahkan medali emas pada berbagai kejuaran olahraga tingkat dunia.
2) Tersinggung ketika melihat bendera merah putih dibakar oleh para demonstran dalam salah satu aksi demonstrasi di Australia.
3) Kecewa ketika kesebelasan nasional Indonesia dikalahkan oleh kesebelasan dari negara lain.
4) Bangga ketika mendengar para pelajar dari negara kita merebut juara dunia dalam kejuaran dunia mata pelajaran Fisika.

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar peribahasa, yaitu “ lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang”. Peribahasa tersebut menggambarkan begitu besarnya kecintaan terhadap bangsa dan negara, meskipun kesengsaraan tengah melanda negaranya. Sekalipun Indonesia telah menjadi negara bangsa yang merdeka, bersatu dan berdaulat, kualitas nasionalisme diantara bangsa ini harus senantisa dibina dan ditingkatkan.

Dua hal yang harus kita lakukan untuk membina nasionalisme Indonesia, yaitu:
1) Mengembangkan kesamaan di antara suku-suku bangsa penghuni Nusantara.
2) Mengembangkan sikap toleransi.
Empat hal yang mesti kita hindari untuk membina nasionalisme Indonesia, yaitu:
1) Sukuisme, yaitu sikap yang menganggap suku bangsa sendiri yang paling baik.
2) Chauvinisme, yaitu sikap yang hanya mengunggulkan bangsa sendiri dan merendahkan bangsa-bangsa lain.
3) Ekstrimisme,yaitu sikap keras mempertahankan pendirian dengan berbagai cara, walaupun melanggar ketentuan-ketentuan dasar negara.
4) Provinsialisme, yaitu sikap yang selalu berkutat dengan kepentingan propinsi (daerah) sendiri tanpa memperdulikan kepentingan bangsa yang lebih besar.


Selasa, 15 Maret 2016

Adiwiyata



Pengertian : Program Adiwiyata adalah salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
Tujuan : Program Adiwiyata ini diharapankan dapat mengajak warga sekolah melaksanakan proses belajar mengajar materi lingkungan hidup dan turut berpartisipasi melestarikan serta menjaga lingkungan hidup di sekolah dan sekitarnya agar dapat menciptakan lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif.

Keuntungan yang diperoleh sekolah dalam mengikuti Program Adiwiyata :
1. Meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan operasional
sekolah dan penggunaan berbagai sumber daya.
2. Meningkatkan penghematan sumber dana melalui pengurangan konsumsi berbagai sumber daya dan energi.
3. Meningkatkan kondisi belajar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif bagi semua warga sekolah.
4. Menciptakan kondisi kebersamaan bagi semua warga sekolah.
5. Meningkatkan upaya menghindari berbagai resiko dampak lingkungan negatif dimasa yang akan datang.
6. Menjadi tempat pembelajaran bagi generasi muda tentang nilai- nilai pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan benar.
7. Mendapat penghargaan Adiwiyata.